Mengharukan.. Ibu dan 3 Anaknya Berjalan 10 Jam Menuju Bandara Usai Gempa Palu






Waslihah, berjalan 10 jam dari DesaLolu, menuju Bandara MutiaraSisAljufri. (Foto: BBC)

Moslemcommunity- Ibu tiga anak berjalan 10 jam, melewati pegunungan, jalanan yang rusak parah, agar bisa ke bandara Palu, dan terbang secepatnya; sementara seorang perempuan lain justru sebaliknya berusaha keras masuk Palu dari Makassar.

Sudah berhari-hari putus asa menanti bantuan, tak juga kunjung tiba.

Akhirnya Waslihah bersama suami dan ketiga anaknya memutuskan untuk berjalan kaki, melewati pegunungan selama 10 jam dari Desa Lolu, Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi menuju Bandara Mutiara Sis Aljufri.

Tujuannya hanya satu, secepatnya keluar dari Palu.

Desa Lolu sebenarnya tidak jauh dari Bandara, dengan berjalan kaki bisa dilalui selama beberapa jam. Tetapi keadaan Palu dan Sigi berhari-hari setelah gempa menyulitkan perjalanan Waslihah, apalagi banyak jalur menanjak yang harus dilalui.

Ia dan keluarga juga harus memutar arah karena jalan tidak bisa dilalui. Semua ditempuh demi anak-anaknya agar bisa bertahan hidup, setidaknya mendapatkan air bersih untuk diminum.

Di Desa Lolu, dia menyaksikan, anak-anaknya kehausan, sejak Senin (01/10), tidak ada air bersih yang bisa diminum. Di tengah keadaan yang serba tak pasti, Waslihah mendengar kabar bahwa ada pesawat TNI yang akan bisa membawanya keluar dari Palu.

"Katanya ada Hercules gratis, jadi kami segera ke sini," katanya kepada Heyder Affan dari BBC News Indonesia.


Bandara Mutiara Sis Aljufri masih rusak akibat gempa. (Foto: BBC)

Setiba di Bandara, ternyata sudah ada ribuan orang lainnya, yang juga ingin keluar dari Palu.

Waslihah pun mendaftarkan dirinya dan keluarga untuk menumpang pesawat militer pengangkut bantuan yang akan kembali menuju Landasan Udara Hasanuddin, Makassar.

Mereka mengantre dan menanti berjam-jam di Bandara Palu yang masih menyisakan kerusakan akibat gempa Jumat lalu (28/09).

Ribuan orang berdesakan, menunggu sampai nama mereka dipanggil untuk masuk ke dalam pesawat. Kebanyakan mengaku ingin keluar secepatnya karena di Palu tak ada listrik, langka air bersih, susah makanan.

"Saya sudah antre berjam-jam. Giliran dipanggil disuruh masuk, cuma anak-anak sama saya saja. Suami tidak boleh ikut ke Makassar" kata Waslihah sambil sesekali menarik napas.


EkoSiswonoToyudho/AnadoluAgency/GettyImages

Ribuan orang mengantre di bawah terik matahari di bandara Palu, untuk bisa menumpang pesawatHercules.
Dalam keadaan darurat, yang paling didahulukan memang adalah perempuan, anak-anak, dan lansia.

Suami Waslihah terpaksa tidak bisa ikut istri dan anak-anaknya, padahal beberapa bulan lalu, suaminya yang mengajak Walsihah merantau ke Kabupaten Sigi, memperbaiki keadaan ekonomi keluarga.

Sehingga setelah memasuki pesawat, Walsihah menjadi ragu, dan memutuskan untuk turun lagi, batal terbang.

Waslihah memilih untuk menunggu kesempatan berikutnya untuk bisa ke Makassar bersama suaminya juga. Sampai Rabu pagi (03/10), Walsihah dan keluarga, masih menunggu di bandara.

Hal sebaliknya terlihat di bandara Makassar.

Jowvy Kumala, justru brusaha keras untuk berangkat ke Palu, untuk mencari tahu keberadaan kedua orang tuanya. Jowvy menginap dua malam di Makkasar, mengantre untuk mendapatkan nomor antrean bersama ribuan orang lainnya untuk berangkat ke Palu.

Kebetulan, ia juga mendapat penugasan dari tempatnya bekerja.

Jowvy menunggu sejak pukul 5.00 WITA sejak Minggu (30/09). Hari itu ia tidak bisa masuk ke dalam pesawat karena antrean para calon penumpang sangat rapat. Sehingga ia harus mendaftarkan diri esok harinya.

Pada hari itu, sebuah pesawat Hercules tiba di Landasan Udara Hasanuddin, Makassar.

"Saya pikir itu pesawat yang akan membawa saya ke Palu, namun tak lama telepon berdering yang mengabarkan bahwa ibu saya sudah tiba di Makassar," papar Jowvvy.

Ayahnya tidak ikut karena yang diprioritaskan untuk dievakuasi adalah perempuan,anak-anak, dan lansia.

"Papa masih merasa kuat sehingga ia memilih tinggal di Palu, rumah kami di sana tidah rusak, sehingga bisa dijadikan posko pengungsian" tambah Jowvy.

Hari itu, Jowvy gagal terbang ke Palu karena tak ada pesawat yang bisa mendarat di bandara Palu.

Senin pagi (01/10) Jowvy kembali mengantre di depan gerbang Landasan Udara Hasanuddin, menanti dengan harap-harap cemas. Ia begitu senang, ketika pada sore harinya itu ia akhirnya termasuk di antara para penumpang yang bisa masuk ke dalam pesawat.

"Menunggu beberapa lama di pesawat, terdengar pengumuman, bahwa pesawat batal terbang lagi. Saya tak bisa lagi menunggu seperti itu. Ya saya putuskan untuk untuk pergi lewat jalur darat dengan menumpang bus," katanya.

Perjalanan darat itu, dalam keadaan nomal, bisa memakan waktu 18-21 jam. Dalam keadaan sekarang, dengan banyak jalur yang rusak, dan berbagai risiko keamanan, belum jelas, berapa lama ia baru bisa sampai ke Palu. (detik.com)


Banner iklan disini Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: