Inilah Dampak yang Dirasakan Masyarakat Akibat Melemahnya Nilai Tukar Rupiah







Pabrik tempe di Kemayoran. ©2018 Liputan6.com/Herman Zakharia

Moslemcommunity- Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) beberapa hari ini bergerak cenderung melemah. Bahkan, nilai tukar nyaris menyentuh level Rp 15.000 per USD atau tingkat terburuk sejak krisis ekonomi 1998 silam.

Pemerintah menyebut, pelemahan nilai tukar Rupiah disebabkan faktor eksternal seperti perang dagang AS - China, membaiknya ekonomi AS sehingga investor menarik Dolar mereka dari dalam negeri dan menanamkannya di Negeri Paman Sam untuk imbal hasil yang lebih tinggi. Selain itu, pelemahan Rupiah juga dipicu krisis di Argentina karena investor khawatir krisis ini bisa menjalar ke negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia.

Namun demikian, pemerintah dan pengusaha menegaskan bahwa kondisi ekonomi RI saat ini berbeda dengan 1998 silam. Bahkan, pengusaha optimis pelemahan Rupiah tidak membahayakan. Bahkan, pengusaha sekaligus mantan Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel mengatakan, kondisi saat ini seharusnya dimanfaatkan untuk mendongkrak ekspor sebanyak-banyaknya, sebab Rupiah yang bisa didulang akan menjadi lebih besar nilainya.

Apalagi, Indonesia bukan kali pertama menghadapi kondisi Rupiah. Seharusnya kondisi - kondisi di masa lalu dapat dijadikan pengalaman yang berharga dalam menghadapi kondisi serupa.

"Sekarang ini momentum, kejadian sekarang ini kan kalau Rupiah melemah kita sudah mengalami bukan pertama kali sudah mengalami tahun 1997 kita alami. Di samping itu kita juga sudah mengalami devaluasi jadi ini bukan hal yang baru," kata Rachmat dalam sebuah acara diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (8/9).

Menurutnya, saat ini seharusnya Indonesia bisa memanfaatkan kondisi Rupiah melemah untuk mengeruk untung dengan cara meningkatkan ekspor. "Nah sekarang adalah bagaimana memanfaatkan kalau untuk saya ini peluang sebetulnya sebagai pengusaha ini peluang. Bagaimana kita bisa dorong ekspor kita dari Indonesia," ujarnya.

Terlepas dari itu, pelemahan Rupiah sudah dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Dari ukuran tempe makin kecil, hingga harga produk akan naik. Berikut rangkuman merdeka.com

1. Harga Produk Naik


dolar AS. (Ist)

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Tutum Rahanta mengatakan, pelemahan nilai tukar Rupiah membuat harga bahan baku dan barang modal beberapa pengusaha mengalami peningkatan.

"Kalau ditanya apakah harga-harga akan naik, itu pasti. Tapi itu akan dilakukan secara gradual," kata dia di Jakarta, Sabtu (8/9).

Selama ini, para pengusaha sudah memutar kepala menari strategi demi tidak menaikkan harga produknya meski Rupiah terus melemah sejak awal 2018. Namun jika Rupiah masih terus melemah, tentunya kemampuan pengusaha untuk meredam hal ini cukup terbatas.

Belum lagi, beberapa pengusaha akan menghadapi kendala baru, terutama keluarnya Peraturan Menteri Keuangan yang membatasi impor beberapa barang.

Tutum meminta pemerintah untuk memperhatikan faktor daya beli masyarakat. Jika daya beli masyarakat rendah, dan Rupiah terus tertekan, dikhawatirkan pertumbuhan industri ritel cukup terganggu.

Meski begitu, Tutum melihat pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap USD memasuki equilibrium baru ini dianggap biasa-biasa saja. "Bagi kami melihat nilai tukar Rupiah ini mencari keseimbangan saja, karena tiap tahun inflasi kita lebih besar dari negara tetangga," katanya.

2. Harga Barang Elektronik Naik


Toko elektronik di Glodok. (Ist)

Pedagang elektronik tengah merana akibat nilai tukar Rupiah yang merosot terhadap Dolar Amerika (USD). Depresiasi nilai tukar Rupiah ini membuat harga barang-barang elektronik naik sehingga berimbas pada penjualan.

Joni (42), pedagang elektronik di Glodok City, Jakarta Barat, mengatakan depresiasi Rupiah yang saat ini terjadi membuat harga barang-barang elektronik termasuk kamera naik hingga 10 persen. Imbasnya penjualan produk tersebut menjadi lesu.

"Sekarang lagi lesu. Awalnya memang gara-gara ada jualan online. Tapi dengan ini (depresiasi rupiah) makin parah. Tidak tahu nanti ke depan bagaimana," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Jumat (7/9).

Dia menuturkan, lantaran penjualan yang lesu, omzetnya kini turun hingga 50 persen. Namun dirinya mengaku hanya bisa pasrah dengan kondisi saat ini.

"Omzet turun 50 persen. Ini Rupiah Rp 14.000 saja sudah berat, bagaimana kalau (bertahan) di Rp 15.000," kata dia.

Selain itu, tren peningkatan penjualan, khususnya untuk kamera digital yang biasanya naik di akhir tahun, hingga saat ini belum terlihat peningkatannya. Hal tersebut membuat dirinya khawatir penjualan tahun ini tidak akan mencapai target.

"Akhir tahun biasanya naik. Tapi dari Agustus harusnya sudah mulai kelihatan naik. Ini sampai sekarang belum ada tanda-tanda. Sampai September masih sepi. Kalau kamera tren meningkat di akhir tahun bisanya orang mau pakai untuk liburan," kata dia.

3. Pembuat Tempe Terancam Bangkrut


Pabrik tempe di Kemayoran. (Liputan6)

Imbas melemahnya nilai tukar Rupiah mulai dirasakan di berbagai sektor ekonomi tak terkecuali para pelaku usaha kecil dan menengah. Seperti halnya para perajin dan pedagang tahu tempe di Karawang yang terkena dampaknya akibat bahan baku kedelai masih mengandalkan kedelai impor.

Perajin tahu dan tempe terpaksa mengurangi ukuran untuk bisa bertahan produksi disebabkan kenaikan harga bahan baku utama tahu tempe tersebut. Ini kemudian mempengaruhi keuntungan yang bisa diraup perajin dan pedagang.

"Sejak beberapa hari terakhir nilai tukar Rupiah terus melemah terhadap USD hingga tembus Rp 14.900 per USD, sehingga mempengaruhi harga bahan baku tahu tempe kedelai impor," kata Herman l perajin tahu tempe di Kelurahan Karangpawitan,Karawang. Jumat (7/9).

Dia menuturkan, ketika harga bahan baku naik, seperti sekarang harga kedelai Rp 800 per Kg, dari sebelumnya Rp 7.500 per Kg, perajin tahu tempe menyiasatinya dengan mengurangi ukuran tahu dan tempe. "Jelas untuk bisa bertahan produksi perajin tahu tempe dipastikan akan mengurangi ukuran, untuk mengurangi kerugian uang lebih besar," katanya.

Sementara pedagang tahu tempe di pasar Tradisional Cikampek, Roheni mengatakan, dibandingkan dengan menaikkan harga, membuat ukuran lebih kecil memang menguntungkan. Sebab, jika harga dinaikkan maka pembeli akan sepi.

"Sebelumnya ukuran tahu 4x4 centimeter dijual dengan harga Rp 3.500 per 10 biji, ukurannya dikurang jadi 3 centimeter dengan harga yang sama," paparnya.

Perajin di sentra tahu tempe di wilayah Gang Kopti, Desa Cikampek Selatan, Kecamatan Cikampek, Karawang berharap Rupiah bisa kembali menguat. Sebab, jika harga bahan baku pembuat tahu tempe tidak terkendali, maka akan banyak perajin tahu tempe sepertinya yang setiap hari memproduksi 25 Kg mengalami kebangkrutan hingga gulung tikar.

"Jika harga kedelai tidak terkendali, khawatir banyak perajin gulung tikar, akibat biaya produksi tinggi," imbuhnya. (Merdeka)


Banner iklan disini Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: