Trump Ancam Akan Gugat Rp 5 T, Pemerintahan Jokowi Siap Buka Keran Impor Produk Pertanian AS







Ilustrasi (Eramuslim)

Moslemcommunity.net-  Kementerian Perdagangan akan membuka lebar keran impor untuk sejumlah produk pertanian dan peternakan asal Amerika Serikat. Langkah ini diambil untuk memperbaiki hubungan perdagangan kedua negara.

Amerika Serikat (AS) meminta Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk memberikan sanksi kepada Indonesia usai memenangkan gugatan atas pembatasan impor produk pertanian dan peternakan asal AS yang diberlakukan pemerintah Indonesia. Nilai sanksi yang diminta AS sebesar US$ 350 juta atau sekitar Rp 5,04 triliun.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku, telah menyiapkan langkah untuk mengatasi ancaman sanksi tersebut. Pihaknya berencana membuka keran impor sejumlah produk pertanian dan peternakan asal AS. Mulai dari kacang kedelai, kapas dan juga daging sapi.

Baca juga: Hiks! Viral Video Pembawa Berita ini Menangis Saat Live Bacakan Berita 'Kebijakan Imigrasi' Trump

“Kita akan buka market akses kepada mereka. Sebab dari 28 bilion US$ hampir 50% kita surplus. Kita surplus kemudian kami batasi barang. (Amerika) mau masukin apel, anggur kita batasi, komplain wajar,” kata Enggartiasto, saat ditemui di Hotel Grand Mercure, Kota Bandung, Rabu (8/8/2018).

Dia menyatakan, impor daging sapi asal AS juga akan dibuka untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dengan begitu Indonesia tidak akan terlalu bergantung terhadap impor daging sapi dari Australia.

“Daging kita juga buka, kenapa harus batasi dari Australia. Kita jangan bergantung pada satu negara,” ujarnya.

Baca juga: Protes Klaim Donald Trump Al Quds Ibukota Israel, Kreator Muda Garut Ini Ciptakan Game Online “Palestine Freedom”

Dia juga melihat dengan dibukanya keran impor daging sapi asal Indonesia bisa berdampak positif terhadap stabilitas daging sapi di Indonesia. Contohnya saja saat impor daging sapi asal India.

“Kita buka dari Spanyol, Brasil apalagi ada dari India saat harga naik langsung turun. Jadi jangan pernah bergantung pada satu negara. Saya termasuk tidak suka monopoli,” katanya.

Lalu ketika keran impor telah dibuka lebar, bagaimana nasib petani Indonesia? (detik)


Banner iklan disini Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: