Dua Peti Berlian Di Masa Umar Bin Khattab







Foto: Pngtree

Moslemcommunity.net- Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada di antara pasukan yang berperang dijalan Allah, lalu mereka selamat dan memperoleh harta rampasan perang (ghanimah) kecuali disegerakan dua pertiga pahalanya. Dan tidak ada di antara pasukan yang gagal, takut, dan menderita kekelahan kecuali disempurnakan pahala mereka.”

Secara harfiah, ghanimah berarti sesuatu yang diperoleh seseorang melalui suatu usaha. Menurut istilah, ghanimah berarti harta yang diambil dari musuh Islam dengan cara perang. Bentuk-bentuk harta rampasan yang diambil tersebut bisa berupa harta bergerak, harta tidak bergerak, dan tawanan perang.Dilihat dari sejarah perang, kebiasaan ini telah dikenal sejak jaman sebelum Islam. Hasil peperangan yang diperoleh ini mereka bagi-bagikan kepada pasukan yang ikut perang tersebut, dengan bagian terbesar untuk pemimpin. Sebagaimana dikisahkan pada masa khalifah Umar bin Khattab.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, setelah terjadi sebuah peperangan dan umat Muslim menang dalam perang tersebut pada saat itu,rampasan perang dihadapkan kepada Khalifah Umar oleh Sa’ib, dia memberitahukan mengenai kedua peti perhiasan berisi berlian yang tak ternilai harganya.

Permata dalam kedua peti itu oleh para pejuang disediakan khusus untuk Umar. Namun, sang Khalifah malah berkata, “Masukkanlah ke Baitul Mal! Nanti kita pikirkan, sepantasnya itu untuk pasukan Anda.” Sa’ib pun memasukkan kedua peti berlian itu ke Baitul Mal dan dia segera pulang bergabung dengan pasukan Islam di Kufah.

Esoknya, Umar mengutus seseorang untuk menyusul Sa’ib. Sayang, sang utusan ini baru bisa menyusulnya usai Sa’ib tiba di Kufah. Sang utusan berkata, “Sepantasnya itu memang untuk Amirul Mukminin. Beliau mengutusku untuk memanggil Anda, tetapi baru sekarang aku dapat menyusulmu.”

“Memangnya ada apa dan mengapa?” tanya.

Aku juga tidak tahu,” ujar utusan itu.

Lalu, keduanya kembali lagi menghadap Umar. Ketika melihat Sa’ib, Umar berkata, “Ah, apa urusanku dengan anak ibu Sa’ib (ungkapan ejekan dengan menisbahkan seseorang kepada ibunya, bukan kepada bapaknya) dan urusan anak ibu Sa’ib denganku?!”
“Ada apa, wahai Amirul Mukminin?” tanya Sa’ib penasaran.

Umar berujar, “Begitu aku tidur ketika saat Anda pergi malam hari, para malaikat menyeretku ke tempat dua peti yang menyala menjadi api sambil berkata, ‘Akan kami selar engkau (mencap menggunakan besi membara) dari api kedua peti itu: Dan aku memutuskan untuk membagikannya kepada kaum muslim. Maka, sekarang bawalah kedua peti itu dan juallah serta bagikan hasilnya kepada kaum muslim.”

Setelah itu, kedua peti berisi perhiasan itu pun dibawa lagi oleh Sa’ib dan disimpan di masjid Kufah. Akhirnya, para pedagang mendatangi Sa’ib, yang kemudian dibeli oleh Amr ibn Harits dengan harga dua juta. Amr lalu membawanya ke daerah orang-orang asing, dan perhiasan itu dijualnya dengan harga empat juta. []

Sumber: The Great of Two Umar/ Penulis: Fuad Abdurrahman/ Penerbit: Zaman, 2016

(Jalansirah)


Banner iklan disini Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: